Proses alami dari sebuah kehidupan bermula dari suatu yang tidak kita duga sebelumnya, di tempat yang kita tidak pernah menyangkanya...!!!

Rabu, 30 Maret 2011

Metode Penyuluhan dengan Merubah Perilaku


“Extension is an on-going process of getting useful information people (the communication dimension) and then assisting those people toacquire the necessary knowledge, skills and attitudes to utilize effectively this information or technology (Swanson and Claar, 1984”
Penyuluhan adalah suatu proses untuk memperoleh informasi yang berguna bagi orang-orang untuk mengetahui pentingnya pengetahun, keahlian dan sikap untuk dipergunakan secara efektif untuk informasi atau teknologi (Swanson dan Claar, 1984)

1. Metode Penyuluhan Secara Paksa
Pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi eksportnya menentukan tanaman yang memberikan keuntungan besar yaitu tebu dan kopi. Tanaman tebu merupakan tanaman tahunan yang membutuhkan irigasi, dan dapat ditanam di sawah, sehingga memungkinkan dapat menanam tebu dan padi bergantian. Sedangkan penanaman tebu tidak cukup kalau hanya mengandalkan pada perluasan tanah, tanpa diimbangi oleh irigasi jalan raya dan sebagainya. Penduduk desa pada dasarnya mempunyai jiwa sosial yang tinggi, sehingga mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan, hal inilah yang disalahgunakan oleh penguasa dan pemerintah kolonial untuk mempekerjakan mereka dan memberi upah yang minim. (Boeke; 1983;25).
Pendirian pabrik-pabrik gula berarti banyak tanah desa yang dipergunakan untuk menanam tebu. Hasil produksi tebu yang meningkat mengakibatkan harus memerlukan banyak tenaga penduduk desa.
Berdasarkan pengalaman dalam kerja paksa ini membuat para penguasa swasta mendapat keuntungan besar dari hasil kontrak gula dengan pemerintah kolonial. Para penguasa swasta mulai berani menggunakan “kerja bebas” yaitu upah yang tidak berdasarkan paksaan melainkan berdasarkan persetujuan sukarela. Jalan-jalan dan alat-alat pengangkutan diperbanyak karena itu penguasa Eropa di Jawa berusaha untuk mengadakan ekspansi. (Burger;1977;204).
Pelaksanaan tanam paksa di Jawa berlangsung lebih kurang selama 40 tahun dan memberikan hasil yang baik bagi pemerintah kolonial sehingga dapat membangun di segala bidang. Sedangkan bagi penduduk di Jawa khususnya, memberikan pula dampak dalam bidang sosial maupun ekonomi, antara lain:
Dampak Sosial
a. Dalam bidang pertanian, khususnya dalam struktur agraris tidak mengakibatkan adanya perbedaan antara majikan dan petani kecil penggarap sebagai budak, melainkan terjadinya homogenitas sosial dan ekonomi yang berprinsip pada pemerataan dalam pembagian tanah. (Sartono ; 1987;321).
b. Ikatan antara penduduk dan desanya semakin kuat hal ini malahan menghambat perkembangan desa itu sendiri. Mengapa terjadi hal demikian? Karena penduduk lebih senang tinggal di desanya, mengakibatkan terjadinya keterbelakangan dan kurangnya wawasan untuk perkembangan kehidupan penduduknya.
Dampak ekonomi:
a. Dengan adanya tanam paksa tersebut menyebabkan pekerja mengenal sistem upah yang sebelumnya tidak dikenal oleh penduduk, mereka lebih mengutamakan sistem kerjasama dan gotongroyong terutama tampak di kota-kota pelabuhan maupun di pabrik-pabrik gula.
b. Dalam pelaksanaan tanam paksa, penduduk desa diharuskan menyerahkan sebagian tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman eksport, sehingga banyak terjadi sewa menyewa tanah milik penduduk dengan pemerintah kolonial secara paksa. Dengan demikian hasil produksi tanaman eksport bertambah,mengakibatkan perkebunan-perkebunan swasta tergiur untuk ikut menguasai pertanian di Indonesia di kemudian hari.(Burger;1977;18).

Akibat lain dari adanya tanam paksa ini adalah timbulnya “kerja rodi” yaitu suatu kerja paksa bagi penduduk tanpa diberi upah yang layak, menyebabkan bertambahnya kesengsaraan bagi pekerja. Kerja rodi oleh pemerintah kolonial berupa pembangunan-pembangunan seperti; jalan-jalan raya, jembatan, waduk, rumah-rumah pesanggrahan untuk pegawai pemerintah kolonial, dan benteng-benteng untuk tentara kolonial. Di samping itu, penduduk desa se tempat diwajibkan memelihara dan mengurus gedung-gedung pemerintah, mengangkut surat-surat, barang-barang dan sebagainya. Dengan demikian penduduk dikerahkan melakukan berbagai macam pekerjaan untuk kepentingan pribadi pegawai-pegawai kolonial dan kepala-kepala desa itu sendiri.
Dampak lain dari tanam paksa tersebut yaitu secara tidak sengaja juga membantu kemajuan bagi bangsa Indonesia, dalam hal mempersiapkan modernisasi dan membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan partikelir bagi bangsa Indonesia sendiri
2. Metode Penyuluhan Dengan Pertukaran
ACIAR-SADI pada bulan Juli 2007 melakukan sebuah studi tentang pengkajian teknologi dan pertukaran pengetahuan yang d tekankan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi baik kekuatan ataupun kelemahan. Tujuan spesifik dari studi ini adalah untuk mendapatkan cara-cara praktis/kerangka model pengkajian yang dapat membantu meningkatkan proses pengkajian teknologi dan juga untuk mendapatkan cerita yang sukses dari proses pengkajian yang sudah dilakukan oleh BPTP dan pihak lain. Selain itu juga untuk memperluas wawasan tentang pendekatan penyuluhan yang ada. Dalam studi ini juga dilaksanakan invetarisasi kegiatankegiatan penyuluhan di Indonesia terkait dengan penyebar luasan teknologi pertanian untuk mendukung data yang dikumpulkan di empat propinsi.
Tahap pengumpulan data untuk tiap-tiap studi kasus sudah dilaksanakan pada bulan Januari dan February oleh ACIAR-SADI dan dibantu oleh pihak BPTP. Dan saat ini tiap-tiap kasus di analisis oleh tim inovasi yang dimaksudkan agar tim dari pihak BPTP melakukan analisis terhadap kelemahan dan kekuatan dan kondisi BPTP saat ini berdasarkan pada indicator-indikator yang dibentuk dan disetujui bersama-sama didalam workshop pertama. Kegiatan ini dilakukan sebagai media belajar BPTP dalam melihat kondisi yang terjadi saat ini di BPTP sehingga mereka dapat melihat dari kacamata BPTP sendiri bukan dari kaca mata orang diluar BPTP.
Kegiatan inventarisasi kegiatan penyuluhan di Indonesia saat ini sedang dilakukan oleh konsultan luar. Kegiatan ini bertujuan untuk; menginventarisir pendekatan penyuluhan yang ada di Indonesia dan menganalisis kelebihan dan kelemahannya, melihat dan menganalisis kebijakan pemerintah pada saat ini dalam penyuluhan pertanian terutama tentang revitalisasi pertanian serta opsi-opsi yang dipandang pemerintah maupun instansi lainnya sebagai alternative yang potensial untuk menyumbang pada pengembangan pertanian yang berkelanjutan. Dari Hasil kegiatan ini diharapkan ada sebuah laporan yang dapat menjadi lesson learn bagi staff BBP2TP dan BPTP serta pihak luar yang tertarik dalam bidang penyuluhan.
3. Metode Penyuluhan Dengan Nasehat
Penyuluhan pertanian memiliki kegiatan yang tertentu agar tujuan yang diinginkan (perbaikan-perbaikan teknologi, cara kerja dan tingkat kehidupan masyarakat tani hutan) dapat tercapai. Kegiatan ini harus dilaksanakan secara teratur dan terarah, tidak mungkin dilaksanakan begitu saja, oleh karena itu memerlukan dan menerapkan, sehingga masyarakat tani hutan tersebut dapat menolong dirinya sendiri mengubah dan memperbaiki tingkat pemikiran , tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya. Salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab setiap penyuluh kehutanan adalah mengkomunikasikan inovasi, dalam arti mengubah prilaku masyarakat sasaran agar tahu, mau dan mampu menerapkan inovasi demitercapainya perbaikan mutu hidupnya.
Dalam hubungan ini, sasaran penyuluh sangatlah beragam, baik mengenai karakteristik individunya, beragam lingkungan fisik dan sosialnya dan beragam pula kebutuhan-kebutuhannya, motivasi, serta tujuan yang diinginkannya. Dengan demikian, tidak ada satu metode yang selalu untuk diterapkan dalam setiap kegiatan penyuluhan pertanian
Karena itu, dalam setiap pelaksanaan kegiatan penyuluhan, penyuluh pertanian harus memahami dan mampu memilih metode penyuluhan yang paling baik sebagai salah satu cara yang terpilih untuk tercapainya tujuan penyuluhan yang dilaksanakannya
Keakraban hubungan antara penyuluh dan sasaran ini menjadi sangat penting, karena dengan keakraban ini aka tercipta suatu keterbukaan mengemukakan masalah dan menyampaikan pendapat. Disamping itu, saran-saran yang disampaikan penyuluh kehutanan dapat diterima dengan senang hati seperti layaknya saran seorang sahabat tanpa ada prasangka atau merasa dipaksa.

4. Metode Penyediaan Sarana
Sistem intensifikasi Massal (Inmas) ditujukan bagi petani yang cukup mampu membiayai intensifikasi dengan dananya sendiri. Untuk lebih meningkatkan produksi maka diperkenalkan “Sistem Latihan Kerja dan Kunjungan (LAKU)” pada tahun 1976, namun tidak bertahan lama karena keterbatasan saranan prasarana (Sekretariat Badan Pengendali Bimas, 1997, dan Abbas, 1995). Sistem Intensifikasi Khusus (Insus) yang merupakan penerapan Sistem Bimas dengan cara berkelompok sehamparan mulai diperkenalkan untuk meningkatkan produksi yang sedang mengalami kenejuhan (levelling off) pada tahun 1979. Petani yang berkelompok ternyata produktivitasnya dan pembayaran kreditnya lebih baik.
Adanya gejala kejenuhan produksi padi kedua pada tahun 1986 menyebabkan dilancarkannya “Sistem Supra Insus,” yaitu penyelenggaraan intensifikasi atas dasar kerjasama antar kelompok tani pelaksana Insus dengan menerapkan teknologi sapta usaha secara lengkap.
Walaupun penyelenggaraan penyuluhan pertanian Sistem Bimas di Indonesia dikatakan sudah cukup mantap, namun penyuluhan pertanian terkesan masih banyak kekurangannya, yakni: (1) linier (top down), (2) proses perencanaan penyuluhan masih sentralistik yang tidak mengutamakan petani dan usahataninya sebagai sentral dalam pembangunan pertanian, (3) pemerintah sangat menonjol memegang kendali sehingga petani hanya menjadi obyek, dan (4) materi penyuluhan sangat umum (mengikuti ketentuan pusat) yang belum tentu cocok diterapkan di daerah yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar