Proses alami dari sebuah kehidupan bermula dari suatu yang tidak kita duga sebelumnya, di tempat yang kita tidak pernah menyangkanya...!!!

Rabu, 05 Desember 2012

Pembuatan Pupuk Organik

PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
DARI KOTORAN TERNAK




Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan organik baik yang berasal dari limbah pertanian, limbah peternakan maupun limbah industri dengan bahan baku bahan organik. Baik melaui proses fermentasi, dikomposisi atau secara pengeringan. Pupuk organik termasuk pupuk majemuk karena mengandung unsuk hara makro (N,P,K) dan unsur hara mikro seperti Ca, Fe dan Mg.
Pupuk orgaanik merupakan pupuk tertua karena sebelum abad ke-19 sudah dikenal oleh petani. Jika ingin menaikkan produksi tanaman maka petani menambahkan sisa tanaman atau kotoran hewan ke dalam tanah.
Bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, serbuk gergaji dan lain-lain) dapat dibuat dalam waktu singkat/hanya beberapa hari dan langsung dapat digunakan.
 
Manfaat pupuk organik:
  1. Memperbaiki struktur tanah, karena mikroorganisme dalam pupuk organik bersifat sebagai perekat dan mengikat butir-butir tanah menjadi butiran yang lebih besar.
  2. Menaikkan daya serap tanah terhadap air, sehingga berpengaruh positif terhadap hasil tanaman terutama pada musim kemarau/kering.
  3. Sebagai sumber zat makanan bagi tanman, karena mengandung unsur hara makro dan unsur hara mikro.
  4. Mempengaruhi sifat biologi tanah, karena pupuk organik menambah energi yang diperlukan kehidupan mikroorganisme tanah. Tanah yang kaya bahan organik akan mempercepat perbanyakan fungi, bakteri, mikro flora dan fauna lainnya.
  5. Pemakaiannya aman bagi manusia dan tidak mencemari lingkungan.
Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan bokashi (organik) dapat berupa limbah ternak, humus, kompos atau pupuk hijau. Selain itu perlu ditambahkan dedak atau bekatul, arang sekam/sekam/serbuk gergaji, air dan cairan aktivator/dekomposer.

Sebagai aktivator antara lain:
1.  EM-4
EM-4 adalah cairan berwarna coklat dengan aroma sedap yang mengandung beberapa jenis bakteri yang menguntungkan, dengan mekanisme kerja saling menguntungkan. Hasil kerja mikroorganisme ini mampu mempercepat proses dekomposisi limbah  organik, mempercepat pelepasan unsur hara, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman dan mampu menekan aktifitas mikroorganisme pathogen.
 
 
Bahan pembuatan beberapa macam bokashi.
 

Nama

Bahan

Jumlah

Bokashi Jerami
Jerami
Dedak
Sekam
Gula pasir
EM-4
Air
200 kg
 
10 kg
200 kg
10 sdm
200 ml (20 sdm)
Secukupnya
Bokashi Pupuk Kandang
Pupuk kandang
Dedak
Sekam
Gula pasik
EM-4
Air
300 kg
10 kg
200 kg
10 sdm
200 ml (20 sdm)
Secukupnya
Bokashi Pupuk Kandang Arang
Pupuk kandang
Dedak
Arang sekam/serbuk gergaji
Gula pasir
EM-4
Air
200 kg
10 kg
100 kg
10 sdm
200 ml (20 sdm)
Secukupnya
Bokashi Pupuk Kandang Tanah
Tanah
Pupuk kandang
Dedak
Arang sekam/serbuk gergaji
  Gula pasir
EM-4
Air
20 kg
10 kg
10 kg
10 kg
5 sdm
200 ml (20 sdm)
Secukupnya
Bokashi Ekspres
Jerami (daun) kering/sekam/serbuk gergaji (dipotong 5-10 cm)
Bokashi yang sudah jadi
Dedak
Bula pasir
EM-4
Air
200 kg
 
 
20 kg
20 kg
5 sdm
200 ml (20 sdm)
secukupnya

 Alat:
·         Timbangan
·         Gelas ukur
·         Gembor/ember
·         Cangkul/sekop
·         Karung
Cara pembuatan:
Pada dasarnya cara pembuatan berbagai macam bokashi tidak banyak berbeda. Adapun tahap pembuatan bokashi adalah sebagai berikut:
  1. Larutkan EM-4 + gula + air dicampur merata (homogen).
  2. Bokashi jerami: jerami yang sudah dipotong-potong + dedak + sekam dicampur merata.
  3. Untuk bokashi pupuk kandang: pupuk kandang + dedak + sekam dicampur merata.
  4. Untuk bokashi pupuk kandang arang: pupuk kandant + dedak + arang sekam/serbuk gergaji dicampur merata.
  5. Untuk bokashi pupuk kandang tanah: tanah + pupuk kandang + arang sekam/arangserbuk gergaji + dedak dicampur merata.
  6. Untuk bokashi ekspres: jerami kering (bahan lain) + bokashi yang sudah jadi + dedak dicampur merata.
  7. Bahan (2) disiram larutan (1). pencampuran dilakukan perlahan-lahan dan merata hingga kandungan air ± 30-40%. Kandungan air yang diinginkan diuji dnegan menggenggam bahan, ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan tidak akan mengembangkan/mekar bila genggaman dilepaskan.
  8. Bahan yang telah dicampurkan tersebut diletakkan di tempat yang kering atau juga bisa dimasukkan ember atau karung. Bila diletakkan di lantai, bahan sebaiknya ditumpuk secara teratur. Tumpukan bahan umumnya setinggi 10-20 cm, tetapi dapat juga sampai 1,5 m. setelah itu bahan ditutup dengan karung goni atau terpal.
  9. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40-500c. untuk mengontrolnya tiap 5 jam (minimal sehari sekali) suhunya diukur. Bila suhunya tinggi maka bahan tersebut dibalik, didiamkan sebentar agar suhu turun, lalu tutup kembali dan demikian seterusnya.
  10. Proses fermentasi berlangsung sekitar 4-7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres berlangsung 24 jam (1 hari). Apabila bahannya mengandung minyak seperti minyak kayu putih, nilam, cengkeh, ampas kelapa atau ampas tahu. Proses fermentasi lebih lama sekitar 14-29 hari, karena dibutuhkan waktu untuk menetralisir minyak tersebut.
  11. Setelah bahan menjadi bokashi, karung goni dapat dibuka. Bokashi jadi mempunyai ciri antara lain: warna hitam/gelap, gembur, tidak panas dan tidak berbau. Dalam kondisi demikian bokashi telah jadi dan dapat dijadikan pupuk.
2.  STARDEC atau MIDEC
Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan kompos adalah kotoran yang berasal dari kandang ditampung, kemudian diendapkan kerena kotoran masih bercampur dengan urine atau air. Pengendapan bertujuan untuk mendapatkan kotoran yang padat.

 

Bahan Pembuatan Kompos dengan Stardec

Bahan

Berat (kg)

Persentase (%)

Kotoran ternak

Serbuk gergaji

Stardec

Kalsit

Abu

1000,0

100,0

2,5

20,0

100,0

-

10,00

0,25

2,00

10,00

Cara Pembuatan
Pembuatan kompos ini meliputi 3 tahap, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan kompos ini sekitar 5 minggu; yaitu seminggu tahap 1, tiga minggu tahap 2 dan 1 seminggu tahap 3.
1.    Tahap I
Setelah diendapkan, kotoran ternak dimasukkan ke dalam bak 1 lalu ditambah dan dicampur rata dengan serbuk gergaji dan stardec, didiamkan selama 1 minggu dalam bak
2.     Tahap II
Tumpukan di bak 1 dibalik serta dipindahkan ke bak 2. Selanjutnya bahan kompos ditambah abu dan kalsit. Proses pengomposan pada tahap II berlangsung selama 3 minggu. Setiap minggu tumpukan dibalik untuk menambah oksigen dalam tumpukan dan menjaga agar suhu sekitar 60-790c
3.      Tahap III
Sebagai tahap pematangan/penstabilan (proses dekomposisi telah selesai), tinggal menstabilkan hasil pengomposan. Setelah 3 di bak 2, tumpukkan dibalik kemudian dipindahkan ke bak 3, bahan dibiarkan sekitar 1 minggu. Pada tahap ini suhu akan turun, nutrisi stabil, terjadi perubahan bentuk menjadi remah, bau hilang, warna yang semula berwarna hijau menjadi coklat. Setelah seminggu kompos disaring/diayak, kondisi kelembaban 35% (suhu kamar) dan tidak berbau. Kompos sudah bisa dikemas dengan plastik. Bahan yang tidak lolos saringan dimasukkan ke dalam tahap I untuk mengalami proses pengomposan kembali.

3.       SUPERDEGRA
Bahan yang diperlukan:
a.       Limbah ternak atau kotoran ternak 80%
b.      Dedak atau bekatul 5%
c.       Arang sekam/sekam/serbuk gergaji 15%
d.      Nusagro Superdegra 1 liter untuk 1 ton bahan organik
e.      Air secukupnya (500 ltr/ton)
Alat yang digunakan: timbangan, gelas ukur, gembor/ember, cangkul/sekop dan karung goni.
 
 
Cara Pembuatan:
  1. Larutkan Nusagro Superdegra ke dalam air
  2. Limbah ternak/kotoran ternak, dedak dan arang sekam/sekam/serbuk gergaji dicampur secara merata/homogen
  3. Siramkan larutan Superdegra ke dalam campuran tadi secara perlahan-lahan sampai merata dan kandungan air mencapai 40-50% (jika digenggam/dikepal dengan tangan tidak keluar air dan bila dilepaskan tidak mengembang)
  4. Tumpuk campuran di atas ubin/lantai yang kering dengan ketinggian 30-35 cm, kemudian ditutup dengan karung goni dan biarkan selama 4 hari
  5. Pertahankan suhu antara 30-350c, jika suhu lebi 400c maka tutup goni dibuka dan kembalikan setelah suhu turun.
  6. Setelah 4 hari bahan organik telah selesai dan menjadi kompos aktif yang siap digunakan sebagai pupuk organik
  7. Dalam proses dekomposisi kompos aktif hindarkan penggunaan bahan plastik dan sinar matahari langsung.
 
Pengumpulan Kotoran Ternak
 
Penjemuran
 
Menutupi Kotoran dg Terpal/Karung 
 
 
Menutupi Kotoran untuk Mempercepat Fermentasi
 
 
 
 
Proses Fermentasi Selesai (Terasa Hangat)
 
 
 
Mesin Penggiling Pupuk
 
 
Pupuk Organik yg Siap Dipakai
 
 
 
 
          
           
          
 
             
            



Sabtu, 17 November 2012

Penanggulangan Kutu Putih pada Labu Siam


PRAKTIKUM MATA KULIAH KHUSUS

METODOLOGI

A.  Lokasi dan Waktu

Lokasi pelaksanaan praktik Mata Kuliah Khusus di Kebun Manisa (labu siam) STPP Malang seluas ± 200 m2.

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 6 November 2012, jam 7:30 - 10:00 WIB

B.  Pelaksanaan Kegiatan

1.    Identifikasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman labu siam.

2.    Identifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya serangan H/P.

3.    Memberikan rekomendasi yang tepat.


 
PEMBAHASAN

A.  Identifikasi Hama dan Penyakit yang Menyerang Tanaman Labu Siam
Setelah kami melakukan analisa dan pengamatan, tanaman labu siam pada lahan kebun STPP Malang diserang oleh hama Kutu Putih (Paracoccus marginatus). Kutu putih memiliki alat mulut menusuk, mengisap dan memakan jaringan tanaman untuk mengisap cairan tanaman.
Gejala yang terlihat pada tanaman labu siam, antara lain:
  • tanaman mengalami klorosis dan kelainan bentuk pada daun (Gambar 1),
  • serangan pada pucuk tanaman labu siam menyebabkan daun menjadi kerdil dan keriput (Gambar 2),
  • daun dan buah mudah rontok,
  • permukaan tanaman ditutupi oleh embun madu dan akhirnya tanaman mengalami kematian (Gambar 3), dan
  • tanaman yang terserang hama ini juga menunjukan gejala seperti terbakar (Gambar 4).

.

Gambar 1  Pertumbuhan Tanaman yang Abnormal




Gambar 2  Pucuk Tanaman yang Kerdil dan Keriput

 

Gambar 3  Permukaan Bawah Daun yang Tertutup Embun Madu


 

Gambar 4  Gejala Daun Seperti Terbakar pada Tanaman yang Terserang

 

B.  Faktor Penyebab Terjadinya Serangan Kutu Putih

Faktor penyebab terjadinya serangan kutu putih pada tanaman labu siam di kebun STPP Malang, antara lain:

1.      terjadinya musim panas (kemarau) yang berkepanjangan,

2.      kandungan Nitrogen (senyawa esensial) yang terdapat pada tanaman labu siam di lahan STPP Malang cukup tinggi,

3. kandungan protein yang cukup tinggi pada tanaman labu siam menyebabkan intensitas serangan lebih besar, seperti halnya pada tanaman pepaya dan ketela pohon, dan

4.   adanya proses penyebaran hama kutu putih dengan cepat melalui bantuan angin, menempel pada bulu-bulu unggas seperti burung, terbawa oleh pakaian atau bahan tanaman yang diperdagangkan.

C.  Rekomendasi yang Sesuai dengan Kondisi Lahan

1.    membakar daun/tanaman yang terserang hama kutu putih,

2.    mengurangi pemberian unsur N setiap melakukan pemupukan,

3.  penyemprotan dengan pestisida organik (daun mimba + sabun wings)


 
 
DAFTAR PUSTAKA
 

 
Erna Z. 2012. Paracoccus marginatus William & Granara de Willink Spesies Baru Kutu Putih Pepaya Ancam Komoditas Perkebunan. BBP2TP. Post Jumat 12 Mei 2012  02:16

 [Dirjen Holtikultura] Direktorat Jendral Holtikultura. 2008. Waspada Serangan Kutu Putih pada Tanaman Pepaya. http://hortikultura.deptan.go.id/

 Purnama D. 2008. Invasi Kutu dari Meksiko. Koran Tempo, 15 Agustus 2008.